“Ada pertemuan ada pula perpisahan”, Kalimat pendek ini enteng sekali jika diungkapkan. Tidak ada bedanya dengan ungkapan-ungkapan yang lain, seperti “ada siang ada malam”, “ada gelap ada pula cahaya”, dan sebagainya. Tetapi, tidak demikian bagi para pencinta sejati. Kalimat “ada pertemuan ada pula perpisahan” bukanlah ungkapan sembarangan. Ibarat jamu, ungkapan ini mengandung kekuatan yang menggetarkan. Jangankan sudah diungkapkan, disembunyikan dengan rapi saja, kalimat ini bisa mengaduk-aduk beragam rasa di seruang dada.
ya, pertemuan bagi para pencinta sejati adalah bertemunya getar-getar kerinduan yang tidak main-main. Bukan persoalan waktu. Sebab semalam saja memendam kerinduan, ibarat merajam keperihan jiwa dalam kubang pesona. Pertemuan adalah saat-saat yang tidak selalu (atau malah tidak akan pernah) sepenuhnya mampu diguratkan dalam keterbatasan kata. Maka, wajar jika tidak jarang tokoh-tokoh pencinta dalam kisah-kisah dunia, memendam rindu, melapar-derakan kerinduannya, demi mendapatkan sebuah pertemuan yang luar biasa.
Apalagi perpisahan. Jangan pernah bertanya kepada para pencinta sejati soal perpisahan. Barangkali, bayangannya saja tidak akan pernah diketemukan dalam kamus cintanya. Perpisahan tak lebih dan tak bukan, adalah belati tajam yang terhunus dengan kilat kekejaman di ujung napas kehidupan. Artinya, bagi para pencinta sejati, hanya mautlah yang boleh menyelimutinya dengan jubah yang bernama perpisahan. Eit, tunggu dulu, bagi para pencinta yang lebih sejati, bahkan maut pun tak akan membuat sosok mengerikan yang bernama perpisahan itu boleh menghampirinya.
Demikianlah, boleh dibilang tidak ada orang yang sungguh-sungguh mencintai, namun ia juga sungguh-sungguh siap dengan sebuah perpisahan. Siapakah yang mau dipertemukan dalam sebuah cinta, namun pada saat yang sama, ia sangat sadar bahwa sebentar lagi perpisahan akan merenggutnya. Maka, pertemuan bagi orang-orang yang sedang dilanda cinta adalah mimpi sangat indah yang benar-benar menjadi kenyataan. Dan perpisahan, adalah mimpi buruk yang membuat seseorang benar-benar merasa bahwa tidurnya adalah kutukan. Ohoi, bukan hanya tidurnya, ternyata hidupnya juga tak lebih hanyalah balutan luka yang tak kunjung tersembuhkan.
Tetapi apakah memang perpisahan merupakan momok yag sama sekali tidak boleh terjadi? Dalam kenyataan hidup sehari-hari, siapakah yang dapat mengelak dari perpisahan? Sudah barang tentu tidak ada. Dan tidak ada yang salah dengan kalimat “ada pertemuan ada pula perpisahan”. Sungguh, ungkapan ini adalah benar adanya. Perpisahan akan selalu bisa terjadi, baik oleh jarak dan waktu, oleh prinsip dan kepentingan yang berbeda. Perpisahan bisa saja menimpa siapa saja dan kapan saja.
Persoalnnya sekarang adalah bagaimana seseorang menyikapi perpisahan itu dengan baik. Sehingga bukan berkepanjangan terpuruk dalam kubangan luka. Namun segera bangkit untuk membangun pertemuan-pertemuan berikutnya dalam kehidupan yang lebih baik. Bukan mengutuk-ngutuk dan terus mencari kesalahan terhadap perpisahan berikut segala sebab yang mengiringinya. Namun segera instropeksi diri dan menerima perpisahan sebagai pengalaman hidup yang paling berharga, yang tidak semua orang bisa mengalami, yang mesti juga disyukuri.
Ah, bagaimanapun juga, perpisahan itu memang betapa nyata adanya. Selanjutnya tinggal bagaimanakah seseorang mesti bersikap. Mau terpuruk selamanya dalam kepedihan yang menyakitkan, atau segera bangkit dan membalut segala luka dengan harapan-harapan baru. Inilah yang paling penting. Inilah hal utama yang ingin ditawarkan yang sengaja diangkat dari catatan-catatan atas sayatan sembilu yang bernama perpisahan itu. Dan selanjutnya, tinggal mengatakan “Selamat datang hari baru yang lebih baik” Meski sesungguhnya tidak mudah mengucapkan kalimat kebangkitan ini. Seusai perasaan yang sedang berbunga terkoyak oleh sebuah perpisahan.